Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ariy diutus ke Yaman

Posted by


tauhid
Tarikh Nabi Muhammad SAW (ke-159)

Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ariy diutus ke Yaman.
Pada tahun ke-10 Hijriyah, Nabi SAW mengutus dua orang shahabat yang beliau pandang ‘alim dalam hukum-hukum Islam ke Yaman, yaitu Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ariy, untuk menjadi muballigh dan mu’allim di sana. Mu’adz ke Yaman bagian utara dan Abu Musa Al-Asy’ariy ke Yaman bagian selatan. Sebelum kedua shahabat ini berangkat, Nabi SAW berpesan :
يَسّرَا وَ لاَ تُعَسّرَا، وَ بَشّرَا وَ لاَ تُنَفّرَا. نور اليقين: 232
Mudahkanlah, jangan dipersulit, dan gembirakanlah, jangan dibikin lari. [Nuurul Yaqiin hal. 232]
Kemudian Nabi SAW berpesan lagi kepada Mu’adz sebagai berikut :
اِنَّكَ سَتَأْتِى قَوْمًا مِنْ اَهْلِ اْلكِتَابِ، فَاِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ اِلَى اَنْ يَشْهَدُوْا اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، فَاِنْ هُمْ طَاعُوْا لَكَ بِذلِكَ فَاَخْبِرْهُمْ اَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلّ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ، فَاِنْ هُمْ طَاعُوْا لَكَ بِذلِكَ فَاَخْبِرْهُمْ اَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْكُمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ اَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ. فَاِنْ طَاعُوْا لَكَ بِذلِكَ فَاِيَّاكَ وَ كَرَائِمَ اَمْوَالِهِمْ. وَ اتَّقِ دَعْوَةَ اْلمَظْلُوْمِ، فَاِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اللهِ حِجَابٌ. البخارى 5: 109
(Hai Mu’adz), bahwasanya kamu akan datang kepada orang-orang ahli kitab, maka apabila kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka kepada mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah. Maka jika mereka telah mematuhi kamu dengan yang demikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Lalu jika mereka telah mematuhi kamu dengan yang demikian itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada kalian membayar zakat, yang diambil dari orang-orang kaya mereka, kemudian dikembalikan (dibagikan) kepada orang-orang miskin mereka. Lalu apabila mereka telah mematuhi kamu dengan yang demikian itu, maka jagalah kehormatan harta benda mereka. Dan takutlah kamu do’anya orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dia dengan Allah. [HR. Bukhari juz 5, hal. 109]
Bukhari juga meriwayatkan sebagai berikut : Dari Abu Burdah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah mengutus Abu Musa dan Muadz bin Jabal ke Yaman. Ia berkata, Beliau mengutus masing-masing dari mereka berdua untuk mengawasi sebuah wilayah. Ia berkata, Yaman itu (terdiri) dari dua wilayah. Kemudian beliau bersabda, Mudahkanlah dan janganlah mempersulit. Gembirakanlah dan jangan menjadikan orang lari. Lalu masing-masing dari keduanya berangkat menuju ke tempat tugasnya. Dan masing-masing ketika berjalan di daerah wilayahnya yang berdekatan dengan temannya, ia memperbaharui janji, lalu ia mengucapkan salam kepadanya. Maka suatu ketika Muadz berjalan di daerah wilayahnya yang berdekatan dengan temannya, yakni Abu Musa. Ia datang dengan menunggang bighalnya sehingga ia sampai kepada Abu Musa.
Ketika itu Abu Musa sedang duduk dengan dikerumuni oleh orang banyak. Pada waktu itu di dekatnya ada seorang laki-laki yang kedua tangannya dibelenggu ke lehernya. Lalu Mu’adz bertanya kepada Abu Musa, “Wahai ‘Abdullah bin Qais, kenapakah orang ini ?”. Ia menjawab, “Ini adalah seorang laki-laki yang kafir setelah memeluk agama Islam”. Mu’adz berkata, “Saya tidak akan turun (dari bighal) sampai laki-laki itu dibunuh”. Abu Musa berkata, “Dia didatangkan hanyalah untuk dibunuh, maka turunlah”. Mu’adz berkata, “Saya tidak akan turun sampai ia dibunuh”. Lalu Abu Musa memerintahkannya, maka laki-laki itu dibunuh. Kemudian Mu’adz turun, lalu bertanya, “Wahai ‘Abdullah, bagaimanakah kamu membaca Al-Qur’an ?”. Abu Musa menjawab, “Saya membacanya sedikit demi sedikit”. Lalu ia balik bertanya, “Bagaimanakah kamu membaca, wahai Mu’adz ?”. Mu’adz menjawab, “Saya tidur di awwal malam, lalu saya bangun, sedangkan saya telah menyelesaikan sebagian malamku dengan tidur. Lalu saya membaca apa yang ditetapkan Allah kepadaku. Maka saya mencari pahala untuk tidurku sebagaimana saya mencari pahala untuk shalat malamku”. [HR. Bukhari juz 5, hal. 107]
Diriwayatkan bahwa Nabi SAW menguji Mu’adz tentang cara memutuskan sesuatu perkara. Nabi SAW bertanya kepada Mu’adz :
Bagaimanakah kamu akan memberi keputusan ?  كَيْفَ تَقْضِى؟
Mu’adz menjawab, “Dengan apa yang tersebut dalam kitab Allah”.
Nabi bertanya lagi :
فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللهِ؟
Jika tidak ada di dalam kitab Allah ?.
Mu’adz menjawab, “Dengan sunnah Rasulullah”.
Nabi SAW bertanya pula :
فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ؟
Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah ?
Mu’adz menjawab, “Aku berijtihad dengan pendapatku”.
Nabi SAW bersabda :
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُوْلَ رَسُوْلِ اللهِ.
Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki utusan Rasulullah.
Tirmidzi meriwayatkan sebagai berikut :
عَنْ مُعَاذٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَعَثَ مُعَاذًا اِلَى اْليَمَنِ فَقَالَ: كَيْفَ تَقْضِى؟ فَقَالَ: اَقْضِى بِمَا فِى كِتَابِ اللهِ. قَالَ. فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللهِ؟ قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَ: اَجْتَهِدُ رَأْيِى. قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَ رَسُوْلَ رَسُوْلِ اللهِ. الترمذى 2: 394
Dari Mu’adz, bahwasanya Rasulullah SAW mengutus Mu’adz ke Yaman. Beliau SAW bersabda, “Bagaimana kamu memutuskan perkara ?”. (Mu’adz menjawab), “Saya memutuskan dengan hukum yang ada di dalam kitab Allah”. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau tidak terdapat di dalam kitab Allah ?”. Mu’adz berkata, “Saya akan memutuskan dengan sunnah Rasulullah”. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau tidak terdapat di dalam sunnah Rasulullah SAW ?”. Mu’adz menjawab, “Saya berijtihad dengan pendapatku”. Rasulullah SAW bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 394]
Adapun Abu Musa Al-Asy’ariy ketika akan berangkat ke Yaman, bertanya kepada Nabi SAW  mengenai minuman keras. Dia berkata, “Ya Rasulullah, di negeri kami (Yaman) ada suatu macam minuman yang terbuat dari biji gandum, yang dinamakan “Mizr” dan suatu minuman lagi yang terbuat dari madu yang dinamakan “Bit’u”, bagaimanakah hukumnya ?”.
Nabi SAW menjawab :
Setiap yang memabukkan adalah haram. كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ
Dalam hadits Bukhari disebutkan : Dari Abu Burdah dan ayahnya, ia berkata : Nabi SAW pernah mengutus kakeknya, yakni Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman, lalu beliau bersabda, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, sampaikanlah berita gembira dan janganlah menjadikan orang lari, dan rukunlah”. Lalu Abu Musa berkata, “Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di tanah wilayah kami terdapat minuman yang terbuat dari gandum, yakni minuman Mizr, dan minuman yang terbuat dari madu, yakni Bit’u”. Maka beliau bersabda, “Setiap yang memabukkan adalah haram”. Kemudian mereka berdua berangkat. Kamudian Mu’adz bertanya kepada Abu Musa, “Bagaimanakah kamu membaca Al-Qur’an ?”. Ia menjawab, “Sambil berdiri, duduk dan sambil menunggang kendaraan, dan saya membacanya sedikit demi sedikit”. Mu’adz berkata, “Adapun  saya, maka saya tidur lalu bangun, maka saya mencari pahala untuk tidurku sebagaimana saya mencari pahala untuk shalat malamku”. Dan ia memasang tenda, lalu mereka berdua saling berkunjung. Kemudian Mu’adz mengunjungi Abu Musa, ketika itu ada seorang laki-laki yang diikat, maka ia bertanya, “Apakah ini ?”. Abu Musa Menjawab, “Seorang laki-laki Yahudi yang telah masuk Islam, kemudian ia murtad”. Lalu Mu’adz berkata, “Sungguh saya akan memenggal lehernya”. [HR. Bukhari juz 5, hal. 108]
Kemudian berangkatlah kedua shahabat itu dari Madinah ke tempat masing-masing di Yaman, untuk menunaikan tugas mereka sebagai muballigh dan mu’allim di sana.
Ahmad meriwayatkan bahwa ketika Mu’adz akan berangkat ke Yaman, Rasulullah SAW melepasnya.
عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدِ السَّكُوْنِى اَنَّ مُعَاذًا لَمَّا بَعَثَهُ النَّبِيُّ ص خَرَجَ اِلىَ اْليَمَنِ مَعَهُ النَّبِيُّ ص يُوْصِيْهِ، وَ مُعَاذٌ رَاكِبٌ وَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَمْشِى تَحْتَ رَاحِلَتِهِ. فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: يَا مُعَاذُ، اِنَّكَ عَسَى اَنْ لاَ تَلْقَانِى بَعْدَ عَامِى هذَا وَ لَعَلَّكَ اَنْ تَمُرَّ بِمَسْجِدِى وَ قَبْرِى. فَبَكَى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ جَشَعًا لِفِرَاقِ رَسُوْلِ اللهِ ص، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ تَبْكِ يَا مُعَاذُ لِلْبُكَاءِ اَوْ اِنَّ اْلبُكَاءَ مِنَ الشَّيْطَانِ. احمد 8: 244، رقم: 22115
Dari ‘Ashim bin Humaid As-Sakuuniy bahwasanya ketika Mu’adz akan ditutus ke Yaman, Nabi SAW memberi washiyat kepadanya. Ketika itu Mu’adz dalam keadaan naik kendaraan, sedangkan Rasulullah SAW berjalan kaki di bawah kendaraannya. Setelah selesai, beliau bersabda, “Hai Mu’adz, mungkin kamu tidak akan bertemu lagi denganku sesudah tahun ini, mungkin kamu hanya bisa melewati masjidku dan quburku”. Lalu Mu’adz bin Jabal menangis, merasa sedih karena akan berpisah dengan Rasulullah SAW. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Janganlah kamu menangis hai Mu’adz, karena menangis atau sesungguhnya menangis itu dari syaithan”. [HR. Ahmad juz 8, hal. 244, no. 2215]
Diriwayatkan, bahwa Mu’adz tinggal di Yaman sampai wafatnya Nabi SAW. Sedangkan Abu Musa Al-Asy’ariy hanya beberapa bulan saja tinggal di sana, kemudian kembali ketika Nabi SAW mengerjakan ibadah hajji wada’, maka bertemulah dia dengan Nabi SAW di Makkah dan ikut menunaikan ibadah hajji bersama-sama Nabi SAW.

Nabi SAW mengutus ‘Amr bin Hazm membawa surat perjanjian

Sebagaimana telah diketahui, bahwa utusan Banu Harits bin Ka’ab pernah datang bersama Khalid bin Walid kepada Nabi SAW. Setelah utusan itu kembali kepada kaum mereka, maka Nabi SAW mengutus seorang shahabat yang bernama ‘Amr bin Hazm ke qabilah kaum Banu Harits. Nabi SAW menugaskan ‘Amr bin Hazm supaya mengajarkan urusan agama, sunnah dan pengetahuan-pengetahuan Islam kepada mereka, dan supaya memungut zakat dari mereka. Maka Nabi SAW menulis surat perjanjian yang berisi perintah dan larangan kepada kaum muslimin di sana sebagai berikut :
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Inilah penyataan Allah dan Rasul-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, tepatilah perjanjian-perjanjian”. Perjanjian dari Muhammad Nabi utusan Allah kepada ‘Amr bin Hazm, ketika mengutusnya ke Yaman. Aku memerintahkannya supaya bertaqwa kepada Allah dalam segala urusan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik. Aku perintahkan kepadanya supaya berpegang kepada kebenaran, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadanya, dan supaya menggembirakan manusia dengan kebajikan dan supaya dia memerintahkan mereka dengan kebajikan itu, dan supaya dia mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia, dan memahamkannya. Dan supaya dia melarang manusia jangan menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci. Dan supaya dia memberitahukan kepada manusia apa-apa yang menjadi hak mereka dan apa-apa yang menjadi kewajiban mereka. Dan supaya berlaku lemah-lembut kepada manusia dalam kebenaran, dan bersikap tegas kepada mereka yang dhalim, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat dhalim dan Dia melarang dari melakukan perbuatan itu. Dia berfirman, “Ketahuilah, la’nat Allah itu ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat dhalim”, dan supaya dia menggembirakan manusia dengan surga dan dengan amalnya, dan supaya dia mengancam manusia dengan neraka dan perbuatannya. Dan supaya dia mempererat hubungan dengan manusia sehingga mereka mengerti agama. Dan supaya dia mengajarkan kepada manusia petunjuk-petunjuk ibadah hajji, sunnah-sunnahnya, kewajiban-kewajibannya dan apa-apa yang diperintahkan Allah dengan itu. Hajji Akbar ialah hajji Akbar, dan hajji Ashghar ialah ‘umrah. Dan supaya dia mencegah manusia mengerjakan shalat dengan satu kain yang kecil atau sempit, kecuali kain itu kedua ujungnya dapat diikatkan pada bahunya, dan supaya dia mencegah manusia duduk ihtiba’ (duduk dengan memeluk kedua lututnya) pada satu kain yang menyebabkan terbuka kemaluannya. Dan supaya dia melarang orang laki-laki menjalin rambut kepalanya di kuduknya. Dan supaya dia melarang apabila terjadi kekacauan diantara sesama manusia, menyeru kepada qabilah-qabilah atau suku-suku, dan hendaklah mereka menyeru kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan barangsiapa yang tidak mau menyeru kepada Allah dan masih menyeru kepada qabilah-qabilah dan suku-suku, maka hendaklah mereka dipenggal dengan pedang, sampai mereka menyeru kepada Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan supaya dia memerintahkan kepada manusia menyempurnakan wudlu mereka pada wajah-wajah mereka, tangan-tangan mereka sampai siku dan kaki-kaki mereka sampai kedua mata kaki mereka, dan supaya mereka menyapu kepala mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada mereka. Dan supaya dia memerintahkan mengerjakan shalat pada waktunya, dan supaya menyempurnakan ruku’, sujud, khusyu’, dan berpagi-pagi pada shalat Shubuh dengan segera, dan segera shalat Dhuhur bila matahari telah condong, dan shalat ‘Ashar ketika matahari membelakangi bumi, dan shalat Maghrib ketika menjelang malam, janganlah bermalas-malas sampai kelihatan bintang-bintang di langit, dan shalat ‘Isyak pada permulaan malam. Dan hendaklah dia memerintahkan supaya segera pergi shalat Jum’at, apabila dipanggil untuk shalat Jum’at, dan mandilah ketika akan berangkat Jum’atan. Dan hendaklah dia memerintahkan supaya memungut seperlima bagian dari harta rampasan perang untuk Allah, dan sedeqah (zakat) yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman sepersepuluh bagian dari hasil kebun yang disirami dengan mata air dan yang disirami dengan air hujan. Adapun yang disirami dengan air sumur, separuh dari sepersepuluh. Dan zakat dari tiap-tiap sepuluh ekor unta adalah dua ekor kambing, dan tiap-tiap dua puluh ekor unta, empat ekor kambing. Dan zakat tiap-tiap empat puluh ekor sapi, seekor sapi betina, dan tiap-tiap tiga puluh ekor sapi, seekor sapi  tabi’ (yang suka mengikut induknya) jantan atau betina yang berumur setahun masuk ke tahun kedua. Dan zakat pada tiap-tiap empat puluh ekor kambing, seekor kambing. Sesungguhnya itulah kewajiban yang diwajibkan Allah, zakat yang telah diwajibkan kepada segenap orang yang beriman. Barangsiapa yang menambah kebaikan, maka kebaikan itu baginya. Dan bahwasanya barangsiapa yang masuk Islam, baik dari Yahudi ataupun Nashrani dengan ikhlash dari jiwa yang tulus dan dia mematuhi semua perintah agama Islam, sesungguhnya dia termasuk golongan orang-orang yang beriman. Dia punya hak seperti orang-orang yang beriman, dan dia punya kewajiban seperti kewajiban orang-orang Islam. Dan barangsiapa yang tetap dalam kenashraniyannya atau keyahudiyannya, maka sesungguhnya dia tidak boleh ditolak dari padanya, tetapi wajib atas tiap-tiap orang dewasa laki-laki ataupun perempuan, merdeka atau budak, membayar jizyah satu dinar sempurna atau diganti dengan sepotong pakaian. Maka barangsiapa yang menunaikan kewajiban yang demikian, sesungguhnya dia mendapat jaminan Allah dan jaminan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang enggan dari yang demikian, sesungguhnya dia adalah musuh Allah dan Rasul-Nya dan segenap kaum mu’minin. Semoga shalawat Allah dilimpahkan kepada Muhammad, begitu pula keselamatan, rahmat dan berkah-Nya. [Ibnu Hisyam juz 5, hal. 294]
Demikianlah surat perjanjian Nabi SAW yang beliau berikan kepada ‘Amr bin Hazm ketika dia berangkat menjadi muballigh dan mu’allim ke Bani Harits di Yaman.



Demo Blog NJW V2 Updated at: 18:56

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx