Jaminan 100%

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Akan hidup terus setelah mati

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” .

Free Consultations

Konsultasi gratis di halaman Konsultasi. Konsultasi via email abuhening@gmail.com hanya untuk Layanan klien.

Kaum muslimin kena perangkap musuh yang kedua kali (Perang Bi’ru Ma’unah), Tarikh Nabi Muhammad SAW (ke-85)

Posted by


Tarikh Nabi Muhammad SAW (ke-85)


Kaum muslimin kena perangkap musuh yang kedua kali (Perang Bi’ru Ma’unah).
Pada suatu hari, masih pada bulan Shafar tahun ke-4 H, datanglah seorang Arab dari qabilah daerah Najd bernama Abu Baraa’ ‘Amir bin Malik kepada Nabi SAW. Oleh beliau sebagaimana biasa jika ada seseorang yang belum mengikut Islam bertemu dengan beliau, lalu segera diajak mengikut Islam.
Abu Baraa’ ketika itu setelah dibacakan beberapa ayat Al-Qur’an dan diberi penjelasan tentang Islam oleh Nabi SAW, maka dia mendengarkan baik-baik, tetapi ia berkata terus terang belum mau masuk Islam, namun ia juga tidak menolaknya. Kata Abu Baraa’ kepada Nabi SAW, 
يَا مُحَمَّدُ لَوْ بَعَثْتَ رِجَالاً مِنْ اَصْحَابِكَ اِلَى اَهْلِ نَجْدٍ فَدَعَوْهُمْ اِلَى اَمْرِكَ، رَجَوْتُ اَنْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ.
“Ya Muhammad, saya mengusulkan kepadamu, alangkah baiknya kalau kamu mengutus beberapa orang utusan kepada kaum ahli Najd untuk menyeru mereka kepada agamamu, aku berharap mereka akan menyambut seruanmu”.
Setelah mendengar usul Abu Baraa’ itu lalu Nabi SAW berfikir, karena usul yang dikemukakan itu kelihatannya tidak akan membahayakan, tetapi beliau masih ragu-ragu juga, karena khawatir kalau-kalau terjadi seperti yang diperbuat oleh kaum Banu Hudzail pada peristiwa Ar-Raji’. Maka Nabi SAW menjawab :
اِنىِّ اَخْشَى عَلَيْهِمْ اَهْلَ نَجْدٍ
Sesungguhnya aku mengkhawatirkan sikap penduduk Najd terhadap shahabatku.
Kemudian Abu Baraa’ menyahut :
اَنَا لَهُمْ جَارٌ فَابْعَثْهُمْ فَلْيَدْعُوا النَّاسَ اِلَى اَمْرِكَ
Aku yang menjamin mereka, maka utuslah para shahabatmu untuk menyeru mereka kepada agamamu.
Ketika itu Abu Baraa’ menyampaikan pula beberapa hadiah kepada Nabi SAW, tetapi tidak ada satupun yang diterima beliau. Selanjutnya Abu Baraa’ mendesak kepada Nabi tentang usulnya tadi. Dan ia meyaqinkan kesanggupannya untuk menjamin keselamatan dan keamanan para utusan itu.
Nabi SAW di kala itu masih tetap merasa berat untuk melepaskan para shahabatnya ke tempat yang diusulkan oleh Abu Baraa’, karena beliau kuatir kalau  penduduk Najd akan berkhianat pula terhadap para utusan beliau. Tetapi Abu Baraa’ berulang-ulang menyatakan kesanggupannya untuk menjamin keselamatan para utusan beliau.
Dengan kesanggupan yang berulang kali dinyatakan oleh Abu Baraa’ itu, dan mengingat bahwa Abu Baraa’ adalah seorang kepala qabilah yang disegani oleh kaumnya, sedangkan menurut adat yang berlaku bagi bangsa Arab dikala itu, apabila kepala suatu qabilah telah mengemukakan janjinya untuk melindungi dan menjamin keselamatan orang-orang dari qabilah lain, maka penduduk di qabilahnya tidak ada seorang pun yang akan berani mengganggu atau melakukan hal-hal yang tidak diinginkan yang sudah disanggupi keselamatannya. Maka akhirnya Nabi SAW mengabulkan permintaan tersebut.
Kemudian pada suatu hari, Nabi SAW mempersiapkan para shahabat pilihan sebanyak 70 orang (menurut riwayat lain 40 orang), untuk pergi sebagai mubaligh Islam ke qabilah daerah Najd itu. Mereka itu sebagian besar dari para shahabat yang mengerti tentang hukum-hukum agama dan hafal Al-Qur'an di luar kepala. Diantara nama-nama mereka itu ialah Al-Mundziir bin ‘Amr, ‘Urwah bin Asma’ bin Shalt, Haram bin Milhan, Al-Harits bin Ash-Shimmah, ‘Amir bin Fuhairah, Nafi’ bin Budail. Nabi SAW menetapkaan kepala rombongan mereka ialah Al-Mundzir bin ‘Amr.
Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah mereka itu ke qabilah yang telah dikemukakan oleh Abu Baraa’, yaitu dengan niat untuk menyiarkan da’wah Islamiyah kepada segenap penduduk Banu ‘Amir. Setelah perjalanan 70 orang utusan Nabi itu sampai di Bi’ru Ma’unah (Telaga Ma’unah) sebuah tempat yang terletak diantara tanah Banu ‘Amir dan Banu Sulaim mereka berhenti, lalu mereka sepakat untuk mengutus seorang dari mereka, yaitu Haram bin Milhan untuk menyampaikan sepucuk surat dari Nabi SAW kepada ‘Amir bin Thufail, kepala qabilah itu.
‘Amir bin Thufail setelah menerima surat dari Nabi SAW dia tidak mau membacanya, bahkan membukanya saja tidak mau. Dan seketika itu pula ia sangat marah melihat kedatangan orang Islam yang membawa surat Nabi SAW itu. Saat itu juga Haram bin Milhan dibunuh dengan senjata tajam oleh seorang Banu ‘Amir atas perintah ‘Amir bin Thufail.
Kemudian ‘Amir bin Thufail  memanggil segenap kaumnya   Banu ‘Amir untuk menghadapi dan menolak kedatangan rombongan para mubaligh Islam dari Madinah, tetapi kaumnya tidak mau menurut perintahnya, tidak berani melanggar perjanjian Abu Baraa’, karena mereka itu sudah mengetahui bahwa kedatangan para mubaligh Islam ke daerahnya itu atas usul dan kemauan Abu Baraa’. Maka tidaklah sepatutnya kalau mereka itu ditolak begitu saja, apalagi dengan kekerasan.
Oleh karena kaum Banu ‘Amir tidak mau menurut perintah ‘Amir bin Thufail, maka dengan keras kepala ‘Amir bin Thufail terus berusaha mencari kawan untuk menghadapi rombongan mubaligh Islam yang datang ke daerahnya itu. Lalu ia memanggil kaum Banu Sulaim yaitu suku ‘Ushayyah, Ri’il dan Dzakwan untuk diajak bersama-sama menolak kedatangan rombongan Islam dengan cara kekerasan dan kekejaman. Ia menghasut kepada mereka itu supaya mengikut ajakan yang jahat itu. Dengan demikian kaum dari suku-suku tersebut segera dapat dipengaruhinya, dan serentak dikerahkan untuk menyerang kedatangan rombongan kaum muslimin tersebut.
Para shahabat yang menanti kembalinya Haram bin Milhan, karena mereka belum mengetahui bahwa ia sudah dibunuh oleh ‘Amir bin Thufail tetapi setelah ditunggu-tunggu tidak juga kembali ke tempat mereka, maka mereka segera berangkat ke rumah ‘Amir bin Thufail.
Dan sewaktu rombongan kaum muslimin datang ke qabilah tersebut, mereka sudah dikepung oleh kaum dari suku-suku tersebut, dan dengan komando dari “Amir bin Thufail sendiri mereka serentak menyerang kaum muslimin dengan besar-besaran.
Setelah kaum muslimin mengetahui bahwa mereka sudah dalam bahaya, maka tidak ragu-ragu lagi mereka harus melawan musuh. Seketika itu terjadilah pertempuran sengit antara kaum muslimin dengan kaum ’Ushayyah, Ri’il dan Dzakwan. Dengan penuh keberanian yang disertai keikhlasan dan tawakkal kepada Allah, kaum muslimin terus bertempur mempertahankan kehormatannya sebagai ummat yang beriman kepada Allah meskipun sampai titik darah yang penghabisan.
Oleh karena fihak pengepung luar biasa banyaknya, maka dengan sendirinya rombongan kaum muslimin menderita kekalahan serta gugur semuanya. Hanya dua orang yang dapat terlepas dari pembunuhan, yaitu Ka’ab bin Zaid dan ‘Amr bin Umayyah. Ka’ab bin Zaid dapat menyelamatkan diri dengan cara pura-pura telah mati bersama-sama kawan-kawannya yang telah gugur. Kemudian dengan cepat kembali ke Madinah dengan menderita luka-luka pada tubuhnya. Adapun ‘Amr bin Umayyah Adl-Dlamriy, ia bersama dengan seorang Anshar dari bani ‘Amr bin ‘Auf tidak menyaksikan terjadinya pertempuran itu karena mereka bertugas berjalan di belakang rombongan. Setelah mereka mengetahui bahwa saudara-saudaranya telah gugur, lalu orang Anshar tersebut bertanya kepada ‘Amr bin Umayyah, “Bagaimana pendapatmu”. ‘Amr bin Umayyah menjawab, “Sebaiknya kita memberitahukan hal ini kepada Rasulullah”. Lalu orang Anshra itu berkata, “Tetapi tidak sepantasnya kalau aku menjauhkan diri dari tempat terbunuhnya Al-Mundzir bin ‘Amr ini”. Kemudian orang Anshar itu menyerang musuh sehingga gugur. Dan ‘Amr bin Umayyah pun ditawan oleh musuh. Tetapi setelah dia memberitahukan bahwa dia orang dari Mudlarr, lalu ‘Amir bin Thufail melepaskannya. Kemudian ia kembali ke Madinah.
Di tengah perjalanan di Qarqarah ‘Amr bin Umayyah bertemu dengan dua orang laki-laki dari bani ‘Amir. Mereka berdua berhenti dan berteduh bersama ‘Amr bin Umayyah, padahal dua orang tersebut telah mengikat pernjanjian dengan Rasulullah SAW dan dalam perlindungan beliau. Tetapi ‘Amr bin Umayyah belum mengetahuinya. Ketika kedua orang bani ‘Amir tersebut berhenti dan singgah di tempat itu, ‘Amr bin Umayyah bertanya kepada mereka, “Dari suku apa kalian berdua ?”. Keduanya menjawab, “Dari Bani ‘Amir”. Kemudian ‘Amr bin Umayyah menunggunya hingga keduanya tertidur, maka ketika itu dia membunuh kedua orang tersebut dengan maksud sebagai pembalasan terhadap orang-orang Bani ‘Amir karena mereka telah membunuh para shahabat Rasulullah SAW.
Setelah ‘Amr bin Umayyah tiba di hadapan Nabi SAW, dia menceritakan kejadian tersebut kepada beliau, maka beliau bersabda :
لَقَدْ قَتَلْتَ قَتِيْلَيْنِ َلاَدِيَنَّهُمَا
Sungguh kamu telah membunuh dua orang, maka aku pasti akan membayar diyatnya. [Ibnu Hisyam 4, hal. 139-140]
Betapa sedih Nabi SAW tatkala menerima laporan yang disampaikan oleh dua orang shahabat itu, sehingga beliau ketika itu menyatakan penyesalannya terhadap Abu Baraa’.
Pada saat itu Nabi SAW sangat sedih atas mushibah yang menimpa para shahabatnya yang sekian banyaknya, sedang mereka itu terdiri dari shahabat pilihan. Lantaran dari kesedihan dan kerisauan hati beliau itu, maka beliau sampai sebulan lamanya setiap mengerjakan shalat lima waktu beliau selalu membaca doa qunut memohonkan kecelakaan atas para kaum pengkhianat, yaitu kaum-kaum dari suku ‘Ushayyah, Ri’il, Dzakwan dan Banu Lihyan. Riwayat-riwayat tersebut antara lain :
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: دَعَا رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى الَّذِيْنَ قَتَلُوْا اَصْحَابَ بِئْرِ مَعُوْنَةَ ثَلاَثِيْنَ صَبَاحًا، يَدْعُوْ عَلَى رِعْلٍ وَ ذَكْوَانَ وَ لِحْيَانَ وَ عُصَيَّةَ، عَصَتِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ. مسلم 1:468
Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah SAW mendoakan kecelakaan pada orang-orang yang telah membantai para shahabat di Bi’ru Ma’unah selama tiga puluh Shubuh, yaitu mendoakan kecelakaan pada  suku Ri’il, Dzakwan, Lihyan dan ‘Ushayyah, mereka itu makshiyat kepada Allah dan Rasul-Nya”. [HR. Muslim 1 : 468]
عَنْ عَاصِمٍ قَالَ: سَمِعْتُ اَنَسًا يَقُوْلُ: مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص وَجَدَ عَلَى سَرِيَّةٍ مَا وَجَدَ عَلَى السَّبْعِيْنَ الَّذِيْنَ اُصِيْبُوْا يَوْمَ بِئْرِ مَعُوْنَةَ. كَانُوْا يُدْعَوْنَ اْلقُرَّاءَ فَمَكَثَ شَهْرًا يَدْعُوْ عَلَى قَتَلَتِهِمْ. مسلم 1:469
Dari ‘Ashim ia berkata : Saya mendengar Anas mengatakan, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW bersedih atas mushibah yang menimpa pasukan beliau sebagaimana yang aku lihat ketika beliau menerima kenyataan yang menimpa para shahabat pada peristiwa Bi’ru Ma’unah. Yaitu para shahabat yang disebut sebagai orang-orang yang ahli membaca Al-Qur’an. Beliau selama sebulan mendoakan kecelakaan pada orang-orang yang membunuh para shahabat beliau”. [HR. Muslim 1 : 469]
عَنْ خُفَافِ بْنِ اِيْمَاءِ اْلغِفَارِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص فِى صَلاَةٍ: اَللّهُمَّ اْلعَنْ بَنِى لِحْيَانَ وَ رِعْلاً وَ ذَكْوَانَ وَ عُصَيَّةَ عَصَوُا اللهَ وَ رَسُوْلَهُ. غِفَارٌ غَفَرَ اللهُ لَهَا وَ اَسْلَمُ سَالَمَهَا اللهُ. مسلم 1:470
Dari Khufaf bin Ima’ Al-Ghifariy ia berkata : Rasulullah SAW berdo’a di dalam sholat, “Ya Allah, laknatlah Bani Lihyan, Ri’il, Dzakwan dan ‘Ushayyah, mereka itu telah makshiyat kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun Bani Ghifar semoga Allah mengampuninya dan terhadap suku Aslam semoga Allah menyelamatkannya”. [HR Muslim 1 : 470]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَقُوْلُ: حِيْنَ يَفْرُغُ مِنْ صَلاَةِ اْلفَخْرِ مِنَ اْلقِرَاءَةِ، وَيُكَبِّرُ، وَ يَرْفَعُ رَاْسَهُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَمْدُ، ثُمَّ يَقُوْلُ: وَ هُوَ قَائِمٌ: اَللّهُمَّ أَنْجِ اْلوَلِيْدَ بْنَ اْلوَلِيْدِ وَ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَ عَيَّاشَ بْنَ اَبِى رَبِيْعَةَ وَاْلمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. اَللّهُمَّ اشْدُدْ وَ طْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِى يُوْسُفَ. اَللّهُمَّ اْلعَنْ لِحْيَانَ وَ رِعْلاً وَ ذَكْوَانَ وَ عُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ. ثُمَّ بَلَغَنَا اَنَّهُ تَرَكَ ذلِكَ لَمَّا اُنْزِلَ: لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ. ال عمران 128. مسلم 1:466-467
Dari Abu Hurairah ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW setelah membaca surat pada shalat Shubuh beliau bertakbir (untuk ruku’) lalu mengangkat kepala beliau (dari ruku’) dengan membaca, “Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal-hamdu”, kemudian beliau dalam keadaan berdiri berdo’a, ”Ya Allah, selamatkan-lah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyas bin Abu Rabi’ah dan orang-orang dlu’afaa’ dari kaum mu’minin. Ya Allah, keraskanlah siksaan-Mu kepada suku Mudlar dan timpakanlah kepada mereka siksaan seperti (paceklik panjang) tahun-tahun pada zaman Nabi Yusuf. Ya Allah, laknatlah suku Lihyan, Ri’il, Dzakwan dan ‘Ushayyah, mereka itu telah makshiyat kepada Allah dan Rasul-Nya !”. Kemudian sampailah berita kepada kami bahwasanya beliau meninggalkan hal itu setelah diturunkan ayat “Laisa laka minal amri syai-un au yatuuba ‘alaihim au yu’adzdzibahum fainnahum dhaalimuun” (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dhalim). - Ali Imran ayat 128. [HR Muslim 1: 466-467]
Perlu diketahui di sini bahwa tentang sebab turunnya ayat 128 surat Ali Imran tersebut ada dua macam riwayat. Riwayat pertama menyatakan bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan doa qunut Nabi SAW sebagaimana riwayat diatas, dan yang kedua menyatakan berkenaan dengan peristiwa perang Uhud sebagaimana riwayat yang telah lalu, wallaahu a’lam bishshawab.
Demikianlah riwayat peristiwa kaum muslimin kena perangkap musuh yang kedua kali.
Peristiwa tersebut di dalam kitab-kitab tarikh Islam biasa disebut dengan Peristiwa Bi’ru (telaga) Ma’unah atau Pasukan Al-Qurraa’, dan peristiwa tersebut terjadi pada bulan Shafar tahun ke-IV Hijrah.
Dan menurut riwayat, bahwa Abu Baraa’ sendiri setelah mendengar peristiwa yang amat menyedihkan itu, dia sangat marah dan berang terhadap perbuatan ‘Amir bin Thufail itu. Dia sebagai seorang ketua suatu kaum merasa amat malu kepada Nabi SAW. Sehubungan dengan hal itu, maka tidak lama setelah Abu Baraa’ mendengar berita yang amat menyedihkan itu lantaran amat malunya kepada Nabi SAW dan juga sangat marahnya terhadap perbuatan ‘Amir bin Thufail tadi yang membikin malu serta menjatuhkan kehormatannya itu, akhirnya ia meninggal dunia.
Kemudian anak Abu Baraa’ yang bernama Rabi’ah, lantaran mengerti bahwa kematian bapaknya akibat dari pengkhianatan ‘Amir bin Thufail, maka diam-diam ia berusaha untuk menuntut balas. Maka pada suatu hari datanglah Rabi’ah anak laki-laki Abu Baraa’ ke rumah ‘Amir bin Thufail dengan membawa tombaknya, lalu dengan tiba-tiba menikam ‘Amir bin Thufail sehingga mati.


Demo Blog NJW V2 Updated at: 20:32

0 comments:

Post a Comment

Disarankan berkomentar menggunakan Akun Google+. Komentar SPAM dan SPAMMY (menyertakan link hidup, minta kunjungan balik, & nama blog) otomatis tidak akan muncul. Pertanyaan OOT silakan di Halaman Ruang Konsultasi. Jika menginginkan Link Tinggalkan alamat Email, Sebelum bertanya, Cari Dulu di Kotak Pencarian! Thx